Total Tayangan Halaman

Diberdayakan oleh Blogger.

Rabu, 15 Oktober 2014

Sistem Imunitas dan Integumen



Sistem Integumen
Integumen merupakan bagian organ tubuh yang berfungsi membentuk lapisan terluar pada tubuh. Integumen terdiri Kulit dan derivatif kulit yaitu rambut, kuku dan beberapa jenis kelenjar dalam kulit.
Kulit
Kulit merupakan organ yang pertama kali menerima stimulus dari lingkungan melalui sejumlah reseptor khusus yang mendeteksi sensasi yang berkaitan dengan suhu, sentuhan, tekanan, dan nyeri  karena kulit terdapat ujung saraf sensori . Kulit merupakan organ terbesar dari tubuh karena kulit merupakan organ yang menutupi seluruh tubuh dengan area permukaan sekitar 1,5-2 m2 untuk melindungi struktur yang berada dibawah kulit dari cedera dan infeksi virus atau mikroba. Kulit terdiri dari dua lapisan, yaitu :
1. Lapisan Epidermis
Merupakan lapisan superfisial atau terluar kulit. Tersusun dari jaringan epitel skuamosa yang bertingkat yang mengalami keratinisasi.  Pada lapisan Epidermis tidak terdapat pembuluh darah  atau ujung saraf sensori dan lapisan epidermis mendapatkan nutrien dan oksigen dari cairan intertisial yang berada di lapisan papila dermis yang berasal dari pembuluh darah. Kulit yang paling tebal pada bagian epidermis terdapat di telapak tangan dan telapak kaki. Terdapat beberapa lapisan sel di epidermis yaitu dari lapisan germinatif hingga lapisan permukaan atau Stratum Korneum (Lapisan tanduk yang tebal).  
a.       Stratum basalis (germinativum) adalah lapisan tunggal sel-sel yang melekat pada jaringan ikat dari lapisan kulit dibawahnya. Pembelahan sel berlangsung pada lapisan ini dan sel baru akan di dorong masuk kelapisan berikutnya.
b.      Stratum Korneum adalah lapisan epidermis yang paling atas, terdiri dari 25-30 lapisan sisik tidak hidup yang semakin tipis menuju kepermukaan kulit. Semua permukaan dari stratum korneum yang terbuka akan mengalami proses pergantian ulang sel yang konstan atau deskuamasi melalui pembelahan sel yang terjadi di lapisan basalis. Dimana sel baru bergerak keatas ke arah permukaan kemudian mengalami keratinisasi dan kemudian mati sehingga seluruh permukaan tubuh yang terbuka ditutup oleh lembaran sel epidermis mati. Pergantiaan seluruh lapisan epidermis setiap 15-30 hari. Lapisan epidermis kecuali pada telapak tangan dan kaki memiliki lapisan epidermis yang tipis dan tersusun hanya dari lapisan basalis dan korneum.
2. Lapisan Dermis
Dipisahkan dengan lapisan epidermis dengan adanya membran dasar (lamina). Membran ini tersusun dari dua lapisan jaringan ikat yaitu lapisan papilar dan lapisan retikular. Lapisan papilar merupakan jaringan ikat areolar renggang dengan fibroblas, sel mast dan makrofag. Lapisan ini mengandung banyak pembuluh darah dan reseptor sensoris tartil. Lapisan retikular yaitu jaringan ikat ireguler yang rapat, kolagen dan seratnya elastik serta letaknya lebih dalam dari lapisan papilar.
Didalam lapisan dermis terdapat Pembuluh darah, pembuluh Limfe, Ujung saraf Sensoris (Somatik), kelenjar keringat dan duktusnya, rambut , otot pili erektor dan kelenjar sebasea.
a.       Pembuluh Darah
Oleh anteriol membentuk suatu jaringan halus disertai dengan cabang-cabang kapiler yang memperdarahi kelenjar keringat, kelenjar sebasea, Folikel Rambut, dan dermis.
b.      Pembuluh Limfe
c.       Reseptor sensoris  
Reseptor sensoris tersebar luas di lapisan dermis dimana impuls yang diterima dari lingkungan dihantarkan ke medula spinalis oleh saraf sensoris yaitu saraf kutaneus somatik dan ke area serebrum.
d.      Kelenjar Keringat
Kelenjar keringat tersebar luas dikulit dan paling banyak terdapat pada telapak tangan, telapak kaki, aksila dan lipat paha. Sebagian duktus (saluran) keringat terhubung dengan permukaan kulit cekungan atau pori-pori kecil dan duktus lainnya terhubung dengan folikel rambut. Kelenjar keringat di stimulasi oleh saraf simpatik dalam berespons terhadap peningkatan suhu tubuh atau ketika sedang ketakutan. Evaporasi keringat di permukaan kulit yaitu mengambil panas dari inti tubuh dan jumlah keringat yang dikeluarkan di atur oleh pusat pengatur suhu di hipotalamus.
e.       Rambut
Rambut terbentuk oleh pembelahan sel bulbus dan saat sel in terdorong ke atas, menjauh dari sumber nutrisi mereka sel akan mati dan menjadi berkeratin.
f.       Pili Arektor
Merupakan berkas kecil serat otot polos yang melekat pada folikel rambut. Kontraksi pili arektor membuat rambut berdiri tegak dan kulit di sekitar rambut terangkat atau kata lainya bulu kuduk berdiri. Otot di kulit distimulasi oleh serat sarap simpatik saat berespons terhadap ketakutan atau kedinginan.  Bulu yang berdiri menjerat udara yang bekerja sebagai lapisan insulator (penyekat/insolator). Mekanisme inilah yang merupakan mekanisme pemanasan yang lebih efisien jika disertai dengan mengigil yakni kontraksi involunter otot rangka.
g.      Kelenjar Sebasea
Kelenjar Sebasea menyekresikan substansi minyak ke folikel rambut dan berada di seluruh kulit tubuh kecuali telapak tangan dan kaki. Minyak menjaga rambut lembut dan halus serta rambut tampak berkilau. Membuat kulit anti air dan bekerja sebagai agen bakterisida dan fungisida untuk mencegah infeksi, mencegah kekeringan dan pecah-pecah pada kulit khususnya saat terpapar cahaya matahari.
3. Lapisan Subkutan atau hipodermis
Lapisan ini mengandung jumlah sel lemak yang beragam bergantung pada area tubuh dan nutrisi individu, terdapat banyak pembuluh darah dan reseptor sensoris.

Fungsi Kulit
1.      Sebagai proteksi
Epidermis kulit terdiri atas sel imun khusus dimana akan terstimulasi saat sel imun berespon terhadap antigen masuk. Sel imun yang di maksud adalah sel langerhans yang bekerja mengfagosit antigen dan beredar ke jaringan limfoid. Dengan adanya ujung saraf sensoris dikulit tubuh dapat berespon secara reflek terhadap stimulus yang tidak menyenangkan sehingga dapat melindungi tubuh dari cedera yang lebih lanjut. Kulit juga mengandung melanin yaitu pigmen kulit yang dapat melakukan proteksi dari sinar ultraviolet dan cahaya matahari yang berbahaya.
2.      Sebagai Pembentukan Vitamin D
Tubuh dapat menghasilkan vitamin D secara alami yaitu dengan Substansi berbahan lipid di kulit yaitu 7-dehidrokolesterol dengan bantuan sinar ultraviolet dari matahari sehingga dapat menghasilkan vitamin D. Kemudian enzim yang berada di hati dan ginjal memodifikasi dengan menghasilkan calcitriol yaitu hormon yang berperan mengabsorbsi kalsium makanan yang berada di gastrointestinal serta membawanya ke dalam pembuluh darah. Bersama Vitamain D yang beredar di darah kalsium dan fosfat bekerja sama dalam pembentukan dan pemeliharaan tulang. 
3.      Sebagai organ ekskresi minor
Zat yang dapat dikeluarkan oleh kulit yaitu :
a.       Natrium Klorida dalam keringat. Keringat yang berlebihan dapat menyebabkan rendahnya kadar Nartrium darah (Hiponatremia)
b.      Urea khususnya saat fungsi ginjal sedang terganggu
4.      Sebagai Sensasi kutan
Ujung saraf yang berada di Dermis kulit merupakan reseptor sensori yang peka terhadap sentuhan, tekanan, suhu, atau nyeri. Stimulasi yang diterima oleh saraf sensori akan di hantarkan ke korteks serebri. Area yang memiliki reseptor sensori yang lebih banyak sehingga lebih peka atau sensitif yaitu pada bibir dan ujung jari.
5.      Sebagai Pengendalian suhu tubuh
Hipotalamus merupakan pusat pengatur suhu tubuh. Hipotalamus berespon terhadap suhu darah yang beredar. Pusat vasomotor di medula oblongata mengendalikan diameter arteri kecil dan arteriol sehingga jumlah darah dapat bersikulasi di kapiler pada dermis. Pusat vasomotor juga di pengaruhi oleh suhu pembuluh darah yang memperdarahi dan oleh hipotalamus.   
Saat suhu tubuh meningkat, kapile kulit berdilatasi dan aliran darah ke permukaan kulit meningkat sehingga konduksi panas pada bagian eksterior dapat terjadi. Kulit terasa hangat dan berwarna merah muda. Saat suhu tubuh menurun, anteriol berkonstriksi untuk menurunkan aliran darah ke permukaan kulit dalam upaya mempertahakan panas tubuh sentral sehingga kulit menjadi lebih dingin dan berwarna putih.
6.      Sebagai pengeluaran panas.
Pengeluaran panas di kulit terjadi melalui proses evaporasi air yang di sekresi oleh kelenjar keringat dan juga melalui proses perspirasi tak kasat mata ( difusi molekul air melalui kulit ). Dimana saat cuaca panas dan lembab maka keringat sangat banyak di produksi namun tingkat evaporasi sangat rendah sehingga mengakibatkan rasa tidak nyaman. Dengan demikian berkeringat menjadi salah satu mekanisme pendinginan hanya akan efisien apabila pada tingkat kelembaban yang lebih rendah. Pengeluaran keringat di kendalikan melalui sistem saraf yang merespons pemanasan atau pendinginan darah secara berlebihan. 

Sistem Imunitas
Merupakan suatu sistem yang memberikan respon imun baik diperantarai sel dan humoral untuk menghadapi agen asing spesifik seperti bakteri, virus, atau zat lain yang bukan bagian dari tubuh. Karakteristik sistem imun yaitu bersifat Spesifisitas yaitu dapat membedakan berbagai zat asing dan  responn ya. Respon imun memiliki kemampuan mengingat kembali agens sebelumnya sehingga apabila terpajan kembali akan menimbulkan respon yang lebih cepat.
Jenis imunitas
a.       Imunitas aktif
Imunitas aktif merupakan imunitas yang dapat aktif saat kontak langsung dengan mikroorganisme atau toksin. Imunitas aktif di bagi menjadi dua yaitu imunitas aktif secara alami yaitu didapatkan setelah seseorang terpapar penyakit sehingga sistem imun memproduksi antibodi serta limfosit khusus. Dan imunitas aktif secara buatan (terinduksi) merupakan hasil vaksinasi dari patogen yang sudah dilemahkan atau sudah mati. Dengan vaksin ini dapat merangsang respon imun namun tidak menyebabkan penyakit bagi individu tersebut.
b.      Imunitas pasif
Merupakan imunitas yang di dapat dari antibodi yang di pindah dari satu individu ke individu lain. Imunitas pasif di bedakan menjadi dua yaitu imunitas pasif alami yang terjadi pada janin yang mendapatkan antibodi Ig G dari ibu yang masuk menembus plasenta saat dalam kandungan. Dan imunitas pasif buatan yaitu imunitas yang didapat dari injeksi antibodi oleh orang lain atau hewan yang kebal terpapar oleh suatu antigen. Misalnya antibodi kuda yang sudah kebal terhadap racun ular tertentu maka antibodi kuda tersebut dapat di injeksi kepada manusia yang dipatuk ular sejenis.
Respon Imun
Respon sistem kekebalan tubuh terhadap kehadiran antigen dapat dibedakan menjadi dua cara, yaitu :
1.      Imunitas humoral
Limfosit B beredar hanya di jaringan Limfoid (Limpa dan nodus limfe). Setelah antigen di deteksi dan berikatan dengan limfosit B, dengan bantuan limfosit T helper, limfosit B membesar dan mulai membelah. Limfosit B memproduksi dua jenis sel fungsional yang berbeda yaitu sel plasma dan sel memori B. Sel plasma menyekresikan antibodi ke darah. Antibodi di bawa oleh jaringan sementara limfosit b sendiri tetap berada dalam jaringan limfoid. Sel plasma hidup tidak lebih dari satu hari dan menghasilkan satu jenis antibodi untuk antigen tertentu saja. Antibodi bekerja dan berikatan dengan antigen, menamakan antigen tersebut sebagai target untuk sel pertahanan , berikatan dengan toksin bakteri, menetralkannya, dan mengaktifkan komplemen untuk membentuk luka atau pori pada sel mikroba patogen sehingga lizosim dapat masuk. Sel B memori berada dalam tubuh untuk waktu lam setelah episode awal saat pertama kali terpapar antigen dengan cepat antibodi berespons terhadap pemaparan antigen yang sama.
2.      Imunitas seluler
Imunitas seluler bergantung pada peran langsung sel-sel (sel limfosit) dalam menghancurkan patogen. Saat Limfosit T terpapar antigen untuk pertama kalinya,limfosit T menjadi tersensitisasi. makrofag dalam hal ini mebantu Limfosit T dalam menampilkan antigen tersebut. Setelah makrofag mencerna antigen, makrofag membawa sebagian besar sisa antigen di membran selnya dan menampilkannya pada permukaan yang akhirnya terpapar dengan limfosit T yang bekerja spesifik pada antigen tertentu sehingga menstimulasi pembelahan dan proliferasi limfosit T.

Struktur sistem imun tubuh
Jenis sel yang terlibat dalam imunitas pada organisme tingkat tinggi terutama burung dan mamalia yaitu sel-sel darah putih (leukosit). Leukosit dibentuk di dalam sumsum tulang dan memiliki satu inti sel yang besar.  Limfosit terdiri dari dua jenis yaitu :
a.       Limfosit B
Limfosit B terbentuk dan dimatangkan dalam sumsum tulang, kemudian limfosit B berdiferensiasi menjadi sel plasma yang bertugas menyekresikan antibodi ke dalam cairan tubuh dan sel limfosit B-memori menyimpan informasi antigen berupa DNA yang dapat memproduksi antibodi yang cocok dengan antigen. Sel limfosit B hidup dalam jangka waktu yang lama.
b.      Limfosit T
Limfosit T di matangkan di kelenjar Timus, kemudian berdiferensiensi menjadi sel T Sitotoksik, sel T penolong, Sel T supressor dan sel T memori. Sel T Sitotoksik berfungsi membunuh sel yang terinfeksi. Sel T penolong berfungsi mengaktifkan limfosit B dan Limfosit T. Sel T supressor berfungsi mengurangi produksi antibodi oleh sel-sel  plasma dengan cara menghambat aktivasi sel T penolong dan sel T sitotoksik. Sel T memori berfungsi untuk mengingat antigen yang telah masuk ke dalam tubuh. Sehingga saat antigennya kembali masuk dan menyerang tubuh maka dengan adanya sel T memori akan terjadi respon sekunder yang lebih cepat dan kuat dalam melawan antigen sebelum terjadi demam dan radang.  
c.       Antibodi
Limfosit B membentuk sistem kekebalan tubuh di dalam cairan tubuh sehingga efektif dalam mengatasi infeksi yang bersifat ektraseluler. Antibodi atau imunoglobulin merupakan produk protein khusus dari Limfosit B yang berfungsi mengenali dan mengikat antigen dan melumpuhkannya. Immunoglobulin dibagi menjadi lima kelas yaitu Ig M yang merupakan antibodi pertama yang disekresikan sebagai respon kekebalan tubuh. Setelah mengikat antigen, Ig M memicu pengaktifan Protein Komplemen. Ig M dapat mengikat antigen menjadi gumpalan sehingga memudahkan untuk di fagosit oleh makrofag.
Ig G mengaktifkan protein komplemen dan menetralkan banyak racun. Ig G dapat melewati plasenta dan menjaga janin dengan kekebalan tubuh dari ibu serta juga di sekresikan dalam kolostrum. Ig A menecegah masuknya antigen melalui jaringan epitel mukosa sistem pencernaan, pernapasa, dan saluran reproduksi. Ig A juga terdapat dalam air liur, air mata dan kolostrum.
 Ig E memicu peradangan jika cacing parasit menyerang tubuh dan berperan dalam reaksi alergi.
Ig D berfungsi dalam diferensi sel limfosit B menjadi sel plasma sel B memori. 
Daftar Pustaka
Sloane,Ethel.(2003).Anatomi dan Fisiologi Untuk Pemula.Jakarta : EGC.